SMA Yadika 12 Depok

Jl. Limo Raya No 20 Meruyung

Unggul dalam Prestasi, Terampil dan Mandiri berdasarkan Iman dan Taqwa

Batu Pandang Ratapan Angin dan Legendanya

Rabu, 06 Februari 2019 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 967 Kali

Batu Ratapan Angin merupakan sebuah Batu pandang yang terdapat di Dieng atau tepatnya di atas Dieng Plateu Theater. Di daerah ini anda dapat melihat pemandangan berupa dua buah telaga yaitu Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari atas bukit. Pemandangan ini akan terlihat cantik sekali sehingga banyak wisatawan yang datang dan berfoto ria di lokasi ini. Di lokasi Batu Ratapan Aggin ini terdapat dua buah kerikil besar daerah kita bangun menikmati pemandangan yang terletak di bawah. Ada dongeng menarik seputar Batu Ratapan Angin ini terkait denga asal-usulya. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan Legenda Batu Ratapan Angin.

Legenda ini mengisahkan bahwa pada zaman dahulu hiduplah pasangan yang terdiri dari seorang pangeran yang ganteng dan seorang putri yang cantik jelita. Keduanya menjalin kasih, saling menyayangi dan bahagia di suatu wilayah. Suatu ketika, ada pihak ketiga yang mencampuri kekerabatan percintaan keduanya. Seorang laki-laki ini begitu mempesona sehingga menggoda sang putri. Sang Putri pun rahasia menjalin cinta dengan lelaki tadi.

Walau ditutupi dengan begitu rapatnya, suatu ketika keburukan pasti akan tercium juga. Sang Pangeran kesannya mencicipi ada hal absurd dalam sikap sang putri. Akhirnya secara rahasia Pangeran tersebut menyelidiki ada apa bergotong-royong dengan sikap absurd sang putri. Suatu ketika sang putri keluar untuk menjalin kasih dengan kekasih barunya. Tanpa diketahui sang Putri, Pangeran mengikuti dari belakang.

Sampailah di sebuah bukit, sang putri bertemu dengan lelaku yang menjadi kekasihnya dan memadu kasih di daerah yang rindang itu. Betapa terkejutnya sang Pangeran melihat kejadian itu. Tanpa menuggu lama-lama lagi, Pangeran pribadi menghadik kedua pasangan tak resmi itu. Sang putri yang melihat sang Pangeran muncul tiba-tiba menjadi kaget setengah mati.

Pertengkaran sengit pun terjadi diantara ketiganya. Akibat tersulut rasa emosi, sang putri berbuat nekat dengan berusaha membunuh sang Pangeran. Sang pangeran menjadi murka, dan kesannya mengutuk sang putri dan kekasih gelapnya menjadi batu. Sang Putri menjadi kerikil yang duduk sedang lelaki selingkuhannya menajdi kerikil yang berdiri. Batu-batu ini apabila diterpa angin yang kencang akan menjadikan suara-suara menyerupai rintihan. Suara ini dianggap sebagai bunyi tangisan keduanya dan meratapi kesalahannya. Masyarakat kemudian menamai kerikil tersebut dengan “Batu Ratapan Angin”.

Itulah legenda yang mendasari lokawisata Dieng ini yang disinggahi rombongan SMA Yadika 12 dalam kegiatan fieldtrip 2019 ini. Semoga dapat menjadi pengalaman tersendiri atas kunjungan yang dilakukan dan memberi kecintaan apada alam Nusantara nan indah yang adalah anugerah Allah atas bangsa Indonesia.

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Drs. Manangap Sitorus

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat rahmatnya telah melimpah kepada kita semuanya, sehingga dikaruniakan kesehatan…

Selengkapnya

PENGUNJUNG